Serasa remuk hatiku dipukul palu,
Sudah berapa banyak air mata ini membasahi pipi,
hingga perih tak lagi kupeduli,
Ku dengar setiap hari kalam itu dibaca,
Tiga puluh satu kali ditegur dengan nada tanya yang sama,
"Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan ?"
Walau itu bukan sebuah pertanyaan yang perlu diberi jawaban,
Namun mungkin itu sudah lebih dari cukup sebuah isyarat bahwa kita berpaling tanpa beban.
